10/05/2013

Keutamaan BULAN REJAB

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata: "Adapun hadith-hadith yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rejab, keutamaan berpuasa Rejab, atau keutamaan berpuasa beberapa hari pada bulan tersebut, maka (ia) terbahagi kepada dua :

*Hadith-hadithnya mau'dhu (palsu), dan

*Hadith-hadithnya dha'if (lemah) (iaitu tidak ada satupun yang sahih)


Beliau juga berkata:

"Tidak ada satu hadith sahih pun yang boleh dijadikan hujjah tentang keutamaan bulan Rejab, berpuasa Rejab, berpuasa di hari-hari tertentu bulan Rejab, mahupun keutamaan solat malam pada bulan tersebut."
[Tabyiinul 'Ajab Fiimaa Warada Fii Fadhaa-ili Rejab]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

"Adapun mengkhususkan bulan Rejab dan Sya'ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum Muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadith yang sahih (HR Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahawa Nabi SAW biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rejab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadith yang seluruhnya lemah (dhoif) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadith-hadith ini sebagai sandaran. Bahkan hadith-hadith yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta."
(Majmu' Al-Fatawa, 25/290-291)

Walaupun bulan Rejab merupakan salah satu dari bulan haram yang memiliki nilai kehormatan dan kemuliaan, namun umat Islam tidak disyari’atkan untuk mengkhususkan bulan tersebut dengan melakukan ibadah-ibadah tertentu atau mengadakan ritual-ritual khusus yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Bahkan mengkhususkan bulan tersebut dengan amal ibadah tertentu (seperti solat raghaib, puasa Rejab) merupakan kebid’ahan dan kemungkaran yang telah dianggap baik oleh sebahagian (besar) umat Islam.

Benar bahawasanya solat, puasa dll merupakan amalan baik lagi mulia yang boleh mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun sekali lagi, kalau amalan-amalan tersebut dikhususkan pada bulan Rejab dengan kelebihan dan tata cara tertentu, maka pelakunya telah menyelisihi petunjuk dan bimbingan Nabi SAW.

Perlu kita ketahui bahawa salah satu sebab terjadinya ini semua adalah tersebarnya hadits-hadits yang lemah (dhaif) dan bahkan tidak sedikit yang palsu (maudhu’) terkait dengan bulan Rejab ini di tengah-tengah kaum Muslimin. Tidak dinafikan bahawa hadits-hadits yang dhoif dan maudhu'itu memberikan fadhilat yang cukup besar dalam mendorong dan membangkitkan semangat umat Islam untuk beramal di bulan yang ketujuh ini.

Wahai Ikhwah sekalian, berikut merupakan antara hadith-hadith dhoif dan PALSU berkaitan bulan Rejab yang tersebar ditengah masyarakat pada hari ini.

1) "Rejab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku."
Diriwayatkan secara mursal oleh Abu al-Fatah bin Abi al-Fawaris, dalam "Amaliyah"(Hadith dhoif, "Dhaif al-Jami', hadith no. 3094, karya Syeikh al-Albani)

2) "Sesungguhnya di Syurga terdapat sungai yang dinamakan sungai Rejab. Airnya lebih putih daripada susu, (rasanya) lebih manis daripada madu. Barangsiapa puasa sehari dari bulan Rejab, maka Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut."
Diriwayatkan oleh Syairazi dalam Alqab (hadith maudhu', "Dhaif al-Jami’, hadith no. 1902, karya Syeikh al-Albani)

"Barangsiapa puasa tiga hari dalam bulan Haram (iaitu hari) Khamis, Jumaat dan Sabtu, maka Allah menuliskan untuknya (pahala) ibadah (selama) dua tahun."
(Hadith dho’if : Dhaif al-Jami', hadith no. 5649, karya Syeikh al-Albani)

"Keutamaan bulan Rejab atas segenap bulan lain seperti keutamaan Al-Qur'an atas segenap perkataan (manusia)."

Ibnu Hajar berkata :
"Hadits ini maudhu."
(Lihat: Kitab 'Kasyfu al-Khafa' 2/110, karya Imam al-Ajaluni).

"Barang siapa yang berpuasa di bulan Rejab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya".

Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abu Dzarr secara Marfu'. Pada sanadnya ada perawi yang bernama Al-Furaat bin As-Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.

Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya 'Al Amaaliy':

Sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al-Furaat bin As-Saaib (dia adalah perawi yang lemah), Rusydiin bin Sa`ad, dan Al-Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.

Sesungguhnya Al-Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya 'Syu`abul Iman'dari hadith Anas, yang maksudnya:

"Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rejab sama nilainya dia berpuasa satu tahun."

Dia menyebutkan hadith yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadith ini juga ada perawi `Abdul Ghafuur Abu As-Shobaah Al Anshari, dia ini perawi yang ditinggalkan.

Berkata Ibnu Hibban :

"Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadith."

Demikianlah hadith-hadith lemah dan palsu sekitar bulan Rejab. Secara ringkasnya, dapat kita ketahui bahawasanya amalan-amalan yang wujud pada bulan ini dengan fadhilat serta khaifiyat tertentu merupakan amalan yang datang daripada sumber yang tidak rajih. Oleh yang demikian, Ahlus Sunnah sepakat tidak menjadikan Hadith Dhoif dan Maudhu' sebagai hujjah bagi membenarkan amalan tertentu.

Akhir sekali, marilah kita sama-sama perhatikan ancaman Nabi SAW terhadap orang yang menyebarkan hadith dhoif dan maudhu'.

Sabda Nabi SAW :

"Barangsiapa yang berdusta ke atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di dalam neraka."
(HR Imam al-Bukhari 1/36 dan Imam Muslim 1/8)

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata bahawasanya Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang mebuat-buat/mengada-adakan perkataan atas (nama)ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka" (HR Imam Ahmad 1/321 dan Ibnu Majah no.34)

Sabdanya lagi:

"Barangsiapa yang menceritakan dariku (di dalam riwayat yang lain : meriwayatkan dariku) satu hadith yang dia sangka (dalam lafaz yang yang lain: yang dia telah mengetahuinya) sesungguhnya hadith itu palsu/dusta, maka dia termasuk salah seorang dari pendusta (dalam lafaz lain: Dia pendusta)."
(HR Imam Muslim 1/7, at-Thahawi Musykilul Atsar 1/175)

Sumber: fb Sham (Keutamaan BULAN REJAB).


EmoticonEmoticon